Friday, January 30, 2009

Bende MATARAM

Saduran : Herman Pratekno/ Dari kisah Memanah Burung Rajawali

Episode 1

Mangkya Pangeran Semono mring Patih Lawa Ijo:
"Jenengsira ywa wedi kangelan, ingsun utus nyekel maling aguna Pangeran Joyokusumo kang gawe rusuh ing kaputren Loano. Ingsun gawani pusaka telu murih widagda ing laku. Siji: Jolo Korowelang. Loro: Keris Kyai Panubiru iya Kyai Tunggulmanik. Telu: Bende Mataram. Lamun keseser yudanira, tabuhen Kyai Bende Mataram. Sayekti Ingsun dewe kang prapto ..."
(Babad Loano)

Alih bahasa:
Demikianlah Pangeran Semono bersabda kepada Patih Lawa Ijo:
"Hendaklah engkau jangan takut lelah. Aku perintahkan kepadamu menangkap pencuri sakti bernama Pangeran Joyokusumo yang membuat keonaran dalam gedung puteri negeri Loano. Kusertakan padamu tiga pusaka agar berhasillah. Pertama: Jolo Korowelang. Kedua: keris bernama Kyai Panubiru juga disebut Kyai Tunggulmanik. Ketiga: Bende Mataram.
Manakala engkau kalah bertanding, tabuhlah Kyai Bende Mataram. Dan aku pasti akan datang ..."
(Babad Loano)

1 ROMBONGAN-PENARI YANG ANEH

KALA itu permulaan musim panen tahun 1792. Sultan Hamengku Buwono II baru beberapa hari naik tahta kerajaan Yogyakarta. Di seluruh wilayah negara, rakyat ikut merayakan hari penting itu. Tontonan wayang dan sandiwara rakyat hampir digelar di semua pelosok desa. Keadaan demikian tidak hanya menggembirakan rakyat desa, tetapi merupakan suatu karunia besar bagi seniman-seniman kecil.

Di suatu jalan pegunungan yang melingkari Gunung Sumbing, berjalanlah seorang laki-laki tegap dengan langkah panjang. Laki-laki itu kira-kira berumur 24 tahun. Ia mengenakan pakaian model pada masa itu. Bajunya surjan Mataram dari bahan lurik halus. Anehnya, memakai celana panjang seperti Kompeni Belanda. Kakinya mengenakan sandal kulit kerbau yang terikat erat-erat pada mata tumit-nya.
Dia bernama Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi yang bertapa di pertapaan Gunung Damar .

Kyai Kasan Kesambi waktu itu sudah ber-umur 70 tahun. Selama puluhan tahun, ia me-nyekap dirinya di atas pegunungan untuk me-nyempurnakan ilmu-ilmu yang diyakini. Setelah berumur 60 tahun barulah dia menerima murid. Muridnya hanya berjumlah lima orang. Murid yang tertua bernama Gagak Handaka. Kemudian Ranggajaya, Bagus Kempong, Wi¬rapati dan Suryaningrat. Gmur murid-murid-nya paling tinggi 40 tahun. Sedangkan murid termuda Suryaningrat lagi berumur 17 tahun.

Meskipun murid-murid Kyai Kasan Kesambi masih tergolong berusia muda, tetapi nama mereka terkenal hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Manakala rakyat lagi membicarakan tentang tokoh-tokoh sakti pada jaman itu, pastilah nama mereka takkan ketinggalan. Mereka disebut sang Pandawa , karena jumlahnya hanya lima orang belaka.
"Murid-murid Kyai Kasan bagaikan kesatria-kesatria Pandawa," kata mereka. "Gurunya suci, murid-muridnya pun luhur budi.".

Ingin Yang Lebih Lengkap ? Silahkan Download Di Sini

0 Comment:

Post a Comment